Saat Kita Menjadi Musa


Ketika Kita Menjadi Musa
Saat Kita Menjadi Musa

anak-anak yang tak paham hukum
merengek-rengekkan keadilan waktu ke waktu
hus, diamlah ! kataku. Diamlah  sebagaimana diamnya
  Musa
terhadap Fir'aun. Sebab kita tengah digoda Tuhan
agar lulus ujian kesabaran
tapi anak-anak sulit 'tuk dibuat mengerti. Mereka
bahkan lebih gencar bertanya kesana kemari: kapan
kesewenangan diadili ? Kapan kedzaliman
  ditenggelamkan ?
kapan bobrok ini ditutup ? Semakin santai membaca
ulang sejarah. Ingin menyaksikan lautan membuka
lantas menelan Fir'aun berserta antek-anteknya.

maka diam-diam aku sibuk menambal jubah Musa
yang robek dan lama ditidurkan sejarah. Seraya
  berharap
kelak bila kerja telah selesai, kita bakal keluar
dengan tubuh tak lagi telanjang. menghadapi musim
tanpa menggigil kedinginan. Menyapa mereka
sembari mewartakan jubah penutup diri.

O, pembangunan Fir'aun seutuhnya
engkau membangun tuhan kaum dunguwan

Dengarlah ! Anak-anak itu mulai bernyanyi. Dengan
   bahasa
yang mereka cipta sendiri. Tak cuma gerak merentang
  waktu
namun punya daya pemanggil laut yang tengah
  mendengkur
mimpi mengelus paha dan kemaluan bukit-bukit karang

dengarlah ! Dendang mereka tak sekedar puitis
namun menyimpan dendam purba. menagih janji
dari doa-doa masa lalu yang nyaris terkubur
di selimut impian

wahai laut ! Di balik cintamu ada tenaga
yang kami impikan. Wahai laut!
bila engkau percaya diri, maka umat yang ingkar
kepada Nuh pernah kau enyahkan dalam banjirmu

anak-anak itu semakin gatal. Tak mau diam meski
  kubujuk
dengan berbagai upacara dan hiburan berteknologi
  canggih
mereka menampik kenyataan. Mereka tak butuh bunga-
  bunga
dan nyanyian. Mereka mencipta koor sendiri
dimana-mana ;"Kami telah mencium busuk bangkai
sejarah
Kami tak mau tidur di negeri yang bau. kami enggan
  makam- minum
dilaut yang bungkam."

wahai! Aku kini habis sabar
dengan jubah bertambal dan tongkat warisan, melangkah
ke tengah-tengah mereka yang asyik-masyuk dalam koor
larut dalam gelombang derita suara nurani yang
  tertindih
acuh terhadap Fir'aun dan antek-anteknya. Dengarlah !
  suara kami
suara alam yang riuh rendah memanggil banjir.
  Menggedor-gedor
langit. Di mana tuhan sedang serius membuat keputusan
  di MejaNya
: Kukabulkan pinta kaum tertindas hari ini,"Tok ! Tok !
   Tok !
maka anak-anak mengubah nyanyian menjadi doa yang
  khusuk
seraya mendorong tubuh Fir'aun beserta anek-
  anteknya
ke tepi laut. Membuat satu pertunjukan kolosal yng
   sulit
dimengerti akal. Menoreh-noreh lembar data sejarah
lihat! laut terbelah bagai kisah dalam sejarah purba
dari dasarnya terdengar suara : memanggil-manggil para
  pendosa
membujuknya agar mau tidur demi mengakhiri
  kepentingan pribadi
satu-satu terdengar langkah menjemput. Para bangsat
dan penjilat
digiring sampat ke tempat

ya, Allah
saat Engkau mencipta Musa
kami belum jadi apa-apa
saat kami Kau jadikan Musa
mereka tak lagi bisa berbuat apa
( lalu tongkat dan jubah yang ada pada kami
Kau ambil kembali untuk disimpan
di kotak kebenaran )
                                                                                    puisi : Odhys (RSGS)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url