belum berkelopak merah mawar...
saat kita bertemu..
diriku hanyalah benih yang belum disemai.
saat kita berbincang..
dirimu adalah mawar diantara tinggi ilalang.
ketika pagi bergulir..
satu-satu kelopakmu luruh..
hingga,
seratus satu kelopakmu terbang..
membumbung ke langit senja..
saat malam tiba..
kita masih terus berbincang
hingga,
sang kunang membakar tangkaimu..
dan kelopakmu berganti..
dengan merah yang membakar ilalang
hampir tengah malam..
langit kembali temaram..
setelah sesaat terang tersulut pembakaran ilalang
ketika fajar menghantar titik embun..
tangkaimu tak lagi utuh..
menghitam,
menjadi debu yang menyelimuti diriku..
kini..
pagi tanpa dirimu..
tapi,
kulihat daun..
sama hijau dengan daunmu...
ada tangkai berduri
seperti sebelum terbakar...
lurus menghadap langit..
dihamparan padang tanpa ilalang
kawan..
kulihat diriku seperti dirimu..
walau belum berkelopak merah mawar...
diriku hanyalah benih yang belum disemai.
saat kita berbincang..
dirimu adalah mawar diantara tinggi ilalang.
ketika pagi bergulir..
satu-satu kelopakmu luruh..
hingga,
seratus satu kelopakmu terbang..
membumbung ke langit senja..
saat malam tiba..kita masih terus berbincang
hingga,
sang kunang membakar tangkaimu..
dan kelopakmu berganti..
dengan merah yang membakar ilalang
hampir tengah malam..
langit kembali temaram..
setelah sesaat terang tersulut pembakaran ilalang
ketika fajar menghantar titik embun..
tangkaimu tak lagi utuh..
menghitam,
menjadi debu yang menyelimuti diriku..
kini..
pagi tanpa dirimu..
tapi,
kulihat daun..
sama hijau dengan daunmu...
ada tangkai berduri
seperti sebelum terbakar...
lurus menghadap langit..
dihamparan padang tanpa ilalang
kawan..
kulihat diriku seperti dirimu..
walau belum berkelopak merah mawar...

