kepada sang tamu

 
kepada sang tamu

kepada sang tamu : sebuah puisi Odhys

ini negeri aneh, tuan
ibu kotanya sebuah hati yang lapuk
suatu saat kepala kami serempak mengangguk
sementara nurani mengutuk-ngutuk

koran-koran laris bagai pisang goreng, Sebab
   masyarakat
telah bosan membaca Kitab Suci. Pada suatu hari ada
  yang coba-coba
menghina Nabi. lalu jadi penarik pelatuk: meledakkan
sebuah demontrasi. Apakah kau merasa aneh, tuan?
meyaksikan mereka yang tak sembahyang namun fasih
berujar alhamdulillah.
melihat si "kafir" masuk bui? saksikanlah
radio-radio kami laris sebab senantiasa memutar dangdut.
menyiarkan dangdut dan menginformasikan dangdut
membuat kami terhibur dan berjoget sambil mulut
   senantiasa
mengoceh minta jazz atau klasik. Mengemis-ngemis
   pengakuan
sebagai modernis (sementara di jalan para pemuda yang
   ngaku rocker
bergaya macam banci. Protes sana-sini dengan topik
    yang dicari-cari)

ini negeri aneh, tuan
kami berlomba memperindah tempat ibadah. Tapi
    enggan
mendatanginya, walau dipanggil keras-keras lima kali
    sehari
bahkan ada tetangga yang sempat marah-marah. Merasa
    terganggu
nikmat tidurnya. Mulut kami senantiasa berdzikir
kalbu kami senantiasa kikir. Apa yang tak aneh?

kami berdiskusi soal Bosnia, Palestina, Irak, Aljazair
dan semua saudara yang nun jauh di sana. Namun lupa
dan acuh sama kemiskinan tetangga. O, simaklah tuan
kami cuma punya bahasa, namun kehilangan makna
   dasarnya
bahkan derai tawa dan melobi tahta, harta dan wanita
di suatu saat kami berpuisi. Di saat lain kami ngamuk
karena ambisi. Di sini memang tempat orang-orang
   nekad, tuan.
tersinggung sedikit lantas protes dan rela bakar diri
apa belum cukup keanehan negeri ini, tuan?
Cobalah takjub dengan kenyataan yang divulgarkan :
   tikus-tikus
diresmikan menguasai got-got kota. Bebas ngerampok,
   bebas berzinah
sementara para kucing dimandulkan. Ber-KB dengan
  setertib-tertibnya
bersenang-senang dengan piagam dan piala
wow, sebagai turis tuan tak usah bingung
please, please, please,...
di sini anda raja dan kami kacungnya. Tapi jangan heran
bila kamipun ingin ngerampok dan memperkosa kaian
saat syahwat kami tersinggung, sebab tuan-tuan semakin
    bebas
mengobral kemaluan. Innalillahi waina ilaihi rajiuun,....

( sebuah puisi karya odhys,  puncak kekacauan nilai dan resiko alamiah. ketika kejahatan menjadi hal lumrah dan kebaikan menjadi suatu hal langka yang aneh di tengah masyarakat adalah sebuah pertanda alami  berakhirnya sebuah peradaban)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url