Perempuan yang tervonis sebagai penzinah
Tentang Taubah Seorang Perempuan Yang Tervonis Sebagai Penzinah
dan matilah perempuan berkulit pualam itu
jutaan batu berbicara disisi cabikan tubuhnya
(tergeletak di sisi Izrail) yag memerahi kuning pasir tanah suci
daku ingat nasib burukmu, Dik
padahal ingin sekali kami berpihak pada kalian
yang menjadi bulan-bulanan di tanah judi kehidupan
'kami diperkuda," katamu dengan duka yang terabaikan
"kami diperkosa lantas dituduh sebagai penzinah"
(sambil tanganmu menggapai-gapai mata uang
ditanah pengasingan yang tampak kian samar
namun bunyinya nyaring terdengar)
seseoramg memaki ketika jubah putihnya terpercik darahmu
dia tidak rela, Dik, merasa kesuciannya dihina didepan banyak mata
daku lantas ingat nasib serupa di jaman Rasulullah
dengan tegas nabi bersabda, Yang kalian saat ini adalah hasil sebuah kejujuran seorang perempuan
yang telah mengakui kesalahannya demi tegaknya hukuman
siapa berani berbuat begini? Saban menit merindukan mati?
lantaran ngeri kepada azab Allah di kemudian hari?"
dan matilah perempuan berkulit pualam itu
kisahnya menjadi sejarah bagi anak cucu yang lahir kemudian
jadi potret buram berbingkai emas atau cermin hias tempat kita mengaca
dan membaca kehidupan
daku masih ingat nasib burukmu, Dik
melanglang bagai angin membawa sejuta ingin
O, akhirnya terpuruk di tembok batu yang dingin
seraya bertanya penasaran : kepada siapa rohku menuntut keadilan?
sebelum daku membisikimu tentang kisah perempuan itu,
yang mati setelah tervonis sebagai penzinah
namun ruh sucinya menjadi rebutan para Malaikat di alam sana
dia tersenyum menghadap Tuhannya, wahai Adikku
karena taubatnya diterima melebihi amalan
separuh lelaki yang hidup dalam ketaatan
di kota suci itu.
saat meyaksikan tubuhmu kaku
aku merasakan kematian bagi kita semua
saat orang-orang menaburi bunga di kuburanmu
aku melihat jutaan batu terlempar dari tangan mereka
O, darahmu menguap jadi doa
doa kami melambai-lambai jadi uang
uang kita membeku di meja hukum
dan sebelum ambruk bibirmu berteriak,
: "M E R D E K A"
in memorial ; para wanita pejuang devisa yang mengalami hujan batu di negeri seberang.
terpanjat doa untuk abangda odhy's
dan matilah perempuan berkulit pualam itu
jutaan batu berbicara disisi cabikan tubuhnya
(tergeletak di sisi Izrail) yag memerahi kuning pasir tanah suci
daku ingat nasib burukmu, Dik
padahal ingin sekali kami berpihak pada kalian
yang menjadi bulan-bulanan di tanah judi kehidupan
'kami diperkuda," katamu dengan duka yang terabaikan
"kami diperkosa lantas dituduh sebagai penzinah"
(sambil tanganmu menggapai-gapai mata uang
ditanah pengasingan yang tampak kian samar
namun bunyinya nyaring terdengar)
seseoramg memaki ketika jubah putihnya terpercik darahmu
dia tidak rela, Dik, merasa kesuciannya dihina didepan banyak mata
daku lantas ingat nasib serupa di jaman Rasulullah
dengan tegas nabi bersabda, Yang kalian saat ini adalah hasil sebuah kejujuran seorang perempuan
yang telah mengakui kesalahannya demi tegaknya hukuman
siapa berani berbuat begini? Saban menit merindukan mati?
lantaran ngeri kepada azab Allah di kemudian hari?"
![]() |
| Perempuan yang tervonis sebagai penzinah |
kisahnya menjadi sejarah bagi anak cucu yang lahir kemudian
jadi potret buram berbingkai emas atau cermin hias tempat kita mengaca
dan membaca kehidupan
daku masih ingat nasib burukmu, Dik
melanglang bagai angin membawa sejuta ingin
O, akhirnya terpuruk di tembok batu yang dingin
seraya bertanya penasaran : kepada siapa rohku menuntut keadilan?
sebelum daku membisikimu tentang kisah perempuan itu,
yang mati setelah tervonis sebagai penzinah
namun ruh sucinya menjadi rebutan para Malaikat di alam sana
dia tersenyum menghadap Tuhannya, wahai Adikku
karena taubatnya diterima melebihi amalan
separuh lelaki yang hidup dalam ketaatan
di kota suci itu.
saat meyaksikan tubuhmu kaku
aku merasakan kematian bagi kita semua
saat orang-orang menaburi bunga di kuburanmu
aku melihat jutaan batu terlempar dari tangan mereka
O, darahmu menguap jadi doa
doa kami melambai-lambai jadi uang
uang kita membeku di meja hukum
dan sebelum ambruk bibirmu berteriak,
: "M E R D E K A"
in memorial ; para wanita pejuang devisa yang mengalami hujan batu di negeri seberang.
terpanjat doa untuk abangda odhy's


