aku dan sinta dan pelangi untuknya


aku dan sinta dan pelangi untuknya
                     
                            # gamang di sepenggal zaman
ku bayang wajah mu tapi maya..
ku ingat nama mu tapi tanya..?
masihkah kau di sana..,
menunggu jawab ku..
                          iya..

                                 
                                           # aku dan sinta
ketika dasamuka membawa setengah jiwanya
aku masih liar tumbuh di hutan belantara.
ketika sisa dirinya melantun nelangsa,
 belantara tak lagi menjadi rumah.
ku tinggal kayu dan tanah sementara
menyeberang ke nirwana meminjam mahkota sang Rama
lalu ku sebarkan titah...
   "enyah lah rahwana kembali lah kekasih jiwa,"
        satu satu wajah berganti rupa hingga sepuluh sirna sempurna.
           dan bersama mahkota Rama Sinta telah kembali ke nirwana.

                 
                                           # pelangi untuknya
dulu,
di tempat ini di bangku panjang berwarna biru muda,
ketika hari menjelang sore dan awan hujan belum lagi kering semua.
ketika dedaun tak lagi dahaga dan biji mengakhiri takdirnya menjadi kecamba
ketika matahari merelakan sinarnya diubah air meronakan semburat aneka warna.
ketika burung-burung kecil yang pulang membawakan kabar dengan nyanyian yang indah.

ya, itu dulu.
ketika kita duduk di bangku yang sama dan memandangi pesona keindahan warna.
ketika kau bilang " andai pelangi di atas  akan tetap di sana,"
ketika kau menoleh dan bertanya, mungkinkah?
ketika kau tersenyum dan cahaya pelangi memberkas di dalam matamu,
ketika tanya ku jawab dengan do'a...
         ...... kekalkanlah pelangi untuknya.

kini,
di bangku panjang yang tak pudar warnanya.
aku duduk di tengah memandang arah pelangi ada
dan kau bermain bersama anak kelinci di dalam cahayanya,

 L'abeilles ; puisi sang lebah

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url