Koreografi Perampasan: Ketika Kuasa dan Perubahan Ruang Sampai ke Meja Makan
Madbie: Ketika mendengar kata pembangunan, yang terbayang sering kali adalah sesuatu yang besar: jalan baru, kawasan industri, gedung, investasi, pertumbuhan ekonomi, atau perubahan sebuah wilayah menjadi lebih modern.
Namun, ada pertanyaan sederhana yang kadang luput dibicarakan: apa yang terjadi pada masyarakat yang hidup di dalam ruang tersebut?
Siapa yang memperoleh manfaat dari perubahan itu? Siapa yang kehilangan akses terhadap tanah, pekerjaan, atau sumber daya? Dan bagaimana perubahan di tingkat wilayah akhirnya memengaruhi sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan dan makanan di atas meja?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi bagian penting dari buku Koreografi Perampasan: Menggugat Kuasa, Ruang Kerja, dan Meja Makan karya Widhyanto Muttaqien.
Buku ini menarik bukan hanya karena tema yang dibahas, tetapi juga karena cara pandangnya. Pembangunan tidak dilihat semata-mata sebagai persoalan ekonomi atau kebijakan, melainkan sebagai proses yang dapat mengubah hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Mengapa Disebut "Koreografi Perampasan"?
Kata koreografi biasanya kita kenal dalam dunia tari. Istilah ini menggambarkan gerakan yang tersusun, melibatkan banyak bagian, dan berlangsung dalam suatu pola tertentu.
Penggunaan istilah tersebut dalam Koreografi Perampasan memberikan gambaran bahwa perampasan tidak selalu terjadi melalui satu tindakan sederhana.
Ada kebijakan, keputusan, kepentingan ekonomi, penguasaan ruang, aturan, lembaga, dan berbagai aktor yang dapat terlibat dalam proses perubahan sebuah wilayah.
Gerakan tersebut mungkin tidak selalu terlihat oleh masyarakat dalam satu waktu. Namun, jika berbagai perubahan itu dilihat sebagai sebuah rangkaian, kita dapat mulai memahami bagaimana ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dapat berubah fungsi dan penguasaannya.
Di sinilah buku tersebut mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga memperhatikan proses yang berlangsung di belakangnya.
Dengan cara pandang seperti ini, pembangunan dapat dibaca sebagai rangkaian proses yang melibatkan hubungan antara kekuasaan, kepentingan, kebijakan, dan masyarakat. Perubahan ruang pun tidak lagi dipahami hanya sebagai perubahan fisik, tetapi juga sebagai perubahan hubungan sosial dan akses terhadap sumber daya.
Dari Ruang Kerja hingga Meja Makan
Frasa "ruang kerja" dan "meja makan" dalam judul buku membawa persoalan pembangunan lebih dekat kepada kehidupan sehari-hari.
Ruang kerja berkaitan dengan bagaimana seseorang mencari nafkah. Sementara itu, meja makan berkaitan dengan bagaimana sebuah keluarga memenuhi kebutuhan hidupnya.
Keduanya sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari persoalan tanah, sumber daya alam, lingkungan, kebijakan, dan perubahan wilayah.
Ketika sebuah kawasan mengalami perubahan fungsi, misalnya, dampaknya tidak berhenti pada perubahan peta. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari ruang tersebut, perubahan itu dapat berarti berubahnya pekerjaan, berkurangnya akses terhadap sumber daya, atau munculnya kebutuhan untuk mencari sumber penghidupan baru.
Pada akhirnya, persoalan tersebut dapat sampai ke rumah.
Sampai ke pendapatan keluarga.
Sampai ke makanan yang tersedia di meja makan.
Karena itu, istilah "meja makan" menjadi menarik. Ia membuat persoalan pembangunan yang biasanya terasa jauh dan abstrak menjadi sesuatu yang sangat manusiawi.
Perubahan yang terjadi di tingkat wilayah dapat memiliki hubungan dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apa yang berlangsung dalam kebijakan dan pengelolaan ruang dapat berpengaruh terhadap pekerjaan, pendapatan, dan akses pangan masyarakat.
Ketika Pembangunan Dilihat dari Dekat
Pembangunan sering dibicarakan dalam ukuran yang besar.
- Berapa nilai investasi yang masuk?
- Berapa kilometer jalan yang dibangun?
- Berapa banyak lapangan kerja yang tersedia?
- Seberapa besar pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan?
Angka-angka tersebut tentu merupakan bagian penting untuk memahami pembangunan. Namun, ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan: bagaimana masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut mengalami perubahan?
Seorang petani mungkin melihat pembangunan melalui perubahan akses terhadap lahan. Masyarakat desa mungkin merasakannya melalui perubahan sumber air, lingkungan, atau ruang hidup.
Pekerja dapat merasakan perubahan melalui kesempatan kerja dan biaya hidup. Sementara itu, keluarga mungkin mengenal dampaknya melalui hal yang lebih sederhana, seperti pendapatan yang berubah, harga kebutuhan yang meningkat, atau semakin sulitnya memperoleh sumber pangan tertentu.
Dengan membawa persoalan tersebut lebih dekat kepada kehidupan masyarakat, Koreografi Perampasan membuka ruang untuk melihat pembangunan dari perspektif yang berbeda.
Pembangunan tidak hanya dapat dibaca melalui target, angka, dan perubahan fisik. Pengalaman masyarakat juga menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana suatu perubahan berlangsung dan apa artinya bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.
Kritik terhadap Cara Kita Memahami Pembangunan
Berdasarkan testimoni yang tercantum pada buku, sejumlah pembaca memberikan perhatian terhadap upaya Widhyanto mengkritisi cara kerja pembangunan dan pengelolaan ruang.
David Tobing dari STF Driyarkara, misalnya, melihat buku ini sebagai upaya untuk mengembalikan perhatian pada niat dan tujuan kebijakan publik, terutama ketika manfaat dan dampaknya tidak dirasakan secara seimbang oleh masyarakat.
Sementara itu, Ernan Rustiadi dari IPB University menyebutnya sebagai kritik multidisipliner terhadap nalar pembangunan di Indonesia.
Yang menarik, pembahasan semacam ini tidak harus selalu disampaikan dengan bahasa akademik yang sulit. Pengalaman lapangan dapat menjadi cara lain untuk memahami persoalan.
Ketika teori bertemu dengan cerita tentang masyarakat, lahan, pekerjaan, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari, persoalan pembangunan menjadi lebih mudah dirasakan dan dipahami.
Pendekatan tersebut juga membuka kesempatan bagi pembaca untuk menghubungkan gagasan pembangunan dengan pengalaman yang mungkin mereka temui sendiri di lingkungan tempat tinggal atau wilayah yang mereka kenal.
Bukan Sekadar Menjadi Penonton
Fathin Robbani Sukmana menggambarkan buku ini sebagai semacam "manual" bagi mereka yang tidak ingin hanya menjadi penonton dalam proses perampasan yang terjadi di sekitar mereka.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa memahami perubahan lingkungan dan ruang bukan hanya pekerjaan akademisi atau pengambil kebijakan. Masyarakat biasa pun dapat belajar membaca apa yang terjadi di sekitarnya.
Misalnya, dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana:
- Mengapa sebuah lahan berubah fungsi?
- Mengapa sebuah kawasan berkembang dengan cepat?
- Siapa yang memperoleh manfaat dari perubahan tersebut?
- Apa yang terjadi pada masyarakat yang sebelumnya tinggal dan bekerja di sana?
- Bagaimana perubahan itu memengaruhi lingkungan dan kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat menjadi awal untuk memahami hubungan antara ruang, kebijakan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
Kesadaran terhadap perubahan di sekitar juga dapat membantu masyarakat mengenali persoalan yang perlu diperhatikan, mencari informasi, serta memahami bagaimana keputusan mengenai ruang berkaitan dengan kehidupan mereka.
Lingkungan dan Kehidupan Tidak Pernah Benar-Benar Terpisah
Ada kecenderungan untuk membicarakan lingkungan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
Hutan dibicarakan sebagai hutan. Sungai sebagai sungai. Tanah sebagai tanah.
Padahal, bagi manusia yang hidup di sekitarnya, semua itu merupakan bagian dari kehidupan.
Tanah dapat menjadi sumber pangan sekaligus sumber penghasilan. Sungai dapat menjadi sumber air dan bagian dari ekosistem masyarakat. Hutan dapat menyediakan berbagai sumber daya sekaligus membantu menjaga keseimbangan lingkungan.
Ketika fungsi ruang tersebut berubah, hubungan manusia dengan lingkungannya pun dapat ikut berubah.
Karena itulah, persoalan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari pembicaraan tentang alam yang terasa jauh dari kehidupan manusia. Kita dapat memulainya dari hal yang paling dekat: bagaimana lingkungan menyediakan ruang bagi manusia untuk hidup.
Dalam konteks pembangunan, pendekatan ini membantu kita melihat bahwa perubahan ekologis dan perubahan sosial dapat saling berkaitan. Kondisi lingkungan, akses terhadap sumber daya, dan keberlangsungan mata pencaharian merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu diperhatikan.
Dari Ruang Hidup Menuju Ketahanan Keluarga
Jika ditarik lebih jauh, pembahasan tentang ruang dan sumber daya alam juga berkaitan dengan ketahanan kehidupan masyarakat.
Keluarga yang memiliki akses terhadap pekerjaan, pangan, air, lahan, dan lingkungan yang baik memiliki berbagai sumber daya untuk mempertahankan kehidupannya ketika terjadi perubahan.
Sebaliknya, ketika akses tersebut semakin terbatas, perubahan di tingkat wilayah dapat terasa jauh lebih berat bagi keluarga yang bergantung pada sumber daya tersebut.
Inilah salah satu alasan mengapa pembicaraan mengenai pembangunan tidak cukup hanya melihat apa yang dibangun. Kita juga perlu melihat apa yang berubah dan siapa yang mengalami perubahan tersebut.
Perhatian terhadap ketahanan keluarga membantu menghubungkan persoalan pembangunan dengan kebutuhan dasar manusia. Pekerjaan, pangan, tempat tinggal, dan lingkungan bukanlah isu yang berdiri sendiri, melainkan bagian-bagian yang saling berhubungan dalam kehidupan sehari-hari.
Membaca Pembangunan dengan Mata yang Lebih Dekat
Koreografi Perampasan karya Widhyanto Muttaqien menawarkan bahan refleksi tentang hubungan antara kekuasaan, ruang, pekerjaan, sumber daya, dan kehidupan masyarakat.
Buku ini membawa persoalan pembangunan dari sesuatu yang terasa besar dan abstrak menjadi lebih dekat dengan pengalaman manusia.
- Dari ruang kerja hingga meja makan.
- Dari perubahan tata ruang hingga perubahan cara seseorang mencari nafkah.
- Dari kebijakan yang dibuat di ruang formal hingga dampaknya yang dirasakan di rumah.
Bagi pembaca yang tertarik pada lingkungan hidup, pembangunan desa, sumber daya alam, tata ruang, maupun kehidupan masyarakat, buku ini dapat menjadi bahan untuk melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang lebih luas.
Sebab, ketika kita berbicara tentang lingkungan dan ruang hidup, yang sedang kita bicarakan sebenarnya bukan hanya tanah, air, hutan, atau wilayah.
Kita sedang berbicara tentang tempat manusia mencari kehidupan, membangun keluarga, memperoleh pangan, dan mempertahankan masa depannya.
Dan mungkin, dari meja makan yang sederhana itulah kita dapat mulai memahami persoalan pembangunan dengan cara yang lebih dekat dan manusiawi.



