Koreografi Perampasan: Buku tentang Kuasa, Ruang Kerja, dan Meja Makan yang Kini Tersedia
Madbie: Buku Koreografi Perampasan: Menggugat Kuasa, Ruang Kerja, dan Meja Makan karya Widhyanto Muttaqien telah resmi diluncurkan dan kini tersedia untuk dibeli oleh masyarakat yang ingin membaca lebih jauh tentang hubungan antara pembangunan, kekuasaan, ruang hidup, dan kehidupan sehari-hari.
Buku ini sebelumnya diperkenalkan melalui sebuah diskusi publik yang digelar pada Selasa, 9 Juni 2026, di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya No. 62, Jakarta. Peluncuran tersebut menjadi ruang pertemuan antara penulis, akademisi, pegiat masyarakat sipil, dan pembaca untuk membicarakan gagasan-gagasan yang diangkat dalam buku.
Kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi Times Indonesia, Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah, serta Kedai Buku Sinau.
Buku yang Mengajak Melihat Pembangunan dari Sisi Lain
Judul Koreografi Perampasan terdengar cukup kuat. Namun, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana proses perubahan ruang dan pembangunan dapat berlangsung melalui rangkaian tindakan yang melibatkan banyak aktor, kebijakan, kepentingan, serta relasi kekuasaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, pembangunan sering kali hadir melalui sesuatu yang terlihat positif, seperti jalan baru, kawasan industri, perumahan, proyek infrastruktur, investasi, atau perubahan tata ruang.
Namun, pertanyaan yang kemudian muncul adalah: siapa yang memperoleh manfaat dari perubahan tersebut, siapa yang harus menanggung dampaknya, dan bagaimana perubahan itu memengaruhi ruang tempat masyarakat bekerja serta menjalani kehidupan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami buku karya Widhyanto Muttaqien tersebut.
Melalui tema yang diangkatnya, buku ini membawa pembaca untuk memperhatikan bahwa pembangunan tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik suatu wilayah. Di dalamnya juga terdapat hubungan antara kebijakan, penguasaan ruang, sumber daya, dan kehidupan masyarakat.
Dari Ruang Kerja hingga Meja Makan
Salah satu hal yang menarik dari tema buku ini adalah penggunaan istilah "ruang kerja" dan "meja makan". Keduanya membawa persoalan pembangunan yang besar dan abstrak menjadi lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Perubahan tata ruang, penguasaan sumber daya alam, pembangunan kawasan, maupun kebijakan ekonomi pada akhirnya tidak berhenti sebagai persoalan yang hanya dibahas di ruang rapat atau dokumen kebijakan.
Dampaknya dapat sampai ke tempat seseorang mencari nafkah, lingkungan tempat keluarga tinggal, harga kebutuhan sehari-hari, hingga apa yang tersedia di atas meja makan.
Dengan sudut pandang tersebut, persoalan ruang dan pembangunan menjadi bagian dari cerita tentang kehidupan manusia.
Perubahan sebuah kawasan, misalnya, dapat memiliki hubungan dengan kesempatan kerja, akses terhadap sumber daya, dan keberlangsungan mata pencaharian. Hal-hal tersebut kemudian berkaitan dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, istilah meja makan memberikan gambaran yang dekat dan mudah dikenali tentang bagaimana persoalan pembangunan dapat menyentuh kehidupan rumah tangga.
Diskusi Peluncuran Mempertemukan Berbagai Perspektif
Dalam diskusi publik yang mengiringi peluncuran buku, Widhyanto Muttaqien hadir sebagai pengantar.
Forum tersebut juga menghadirkan David Tobing dari STF Driyarkara dan Parid Ridwanudin dari Auriga sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Kholida Annisa dari My Greenleaders.
Kehadiran sejumlah latar belakang tersebut memperlihatkan bahwa gagasan dalam Koreografi Perampasan dapat dibaca dari berbagai sudut, mulai dari persoalan sosial, lingkungan, kebijakan publik, hingga kehidupan masyarakat.
Peluncuran buku bukan hanya menjadi acara perkenalan sebuah karya, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membuka percakapan mengenai bagaimana masyarakat memahami pembangunan dan perubahan ruang di sekitarnya.
Diskusi publik semacam ini juga menyediakan ruang bagi berbagai perspektif untuk bertemu. Persoalan pembangunan dapat dibicarakan melalui pengalaman masyarakat, kajian akademik, maupun perhatian terhadap lingkungan dan kebijakan.
Ketika Lingkungan Tidak Bisa Dipisahkan dari Kehidupan
Banyak pembahasan mengenai lingkungan berhenti pada persoalan hutan, sungai, tanah, udara, atau sumber daya alam.
Padahal, lingkungan merupakan ruang tempat manusia menjalani kehidupan.
Ketika sebuah kawasan berubah, masyarakat yang tinggal dan bekerja di dalamnya ikut mengalami perubahan. Ketika sumber daya alam dikelola dengan cara tertentu, kehidupan ekonomi masyarakat juga dapat ikut berubah.
Karena itu, membaca persoalan lingkungan juga berarti membaca persoalan manusia.
Cara pandang semacam ini membuat tema Koreografi Perampasan memiliki hubungan dengan isu kehidupan sehari-hari yang lebih luas: bagaimana manusia memperoleh penghidupan, mempertahankan tempat tinggal, mendapatkan pangan, dan menjaga keberlangsungan keluarganya.
Lingkungan bukan sekadar latar tempat kehidupan berlangsung. Kondisi lingkungan dan akses terhadap sumber daya dapat berkaitan dengan pekerjaan, pangan, serta berbagai kebutuhan dasar masyarakat.
Buku untuk Pembaca yang Ingin Melihat Persoalan secara Lebih Dekat
Koreografi Perampasan: Menggugat Kuasa, Ruang Kerja, dan Meja Makan dapat menjadi bacaan bagi mereka yang tertarik memahami hubungan antara pembangunan, kekuasaan, ruang, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.
Buku ini juga relevan bagi mahasiswa, akademisi, pegiat masyarakat sipil, pemerhati lingkungan, maupun pembaca umum yang ingin melihat persoalan pembangunan dari perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Alih-alih melihat pembangunan hanya sebagai angka pertumbuhan, proyek fisik, atau perubahan sebuah wilayah di atas peta, buku ini mengajak pembaca memperhatikan apa yang terjadi kepada manusia yang hidup di dalam ruang tersebut.
Bagi pembaca yang mengikuti isu tata ruang, pembangunan desa, pengelolaan sumber daya alam, dan perubahan lingkungan, tema buku ini dapat menjadi bahan untuk memperluas sudut pandang dalam memahami berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
Koreografi Perampasan Kini Sudah Tersedia untuk Dibeli
Setelah resmi diluncurkan pada Juni 2026, buku Koreografi Perampasan: Menggugat Kuasa, Ruang Kerja, dan Meja Makan kini telah tersedia untuk dibeli.
Bagi pembaca yang tertarik mengikuti gagasan Widhyanto Muttaqien mengenai kuasa, ruang kerja, lingkungan, pembangunan, dan kehidupan masyarakat, buku ini dapat menjadi salah satu bahan bacaan untuk memperluas cara melihat perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Informasi pemesanan buku dapat diperoleh melalui kanal penjualan yang disediakan oleh penyelenggara dan pihak terkait. Materi publikasi peluncuran juga menyediakan kode QR pemesanan buku bagi masyarakat yang ingin mendapatkannya.
Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai ketersediaan dan cara pemesanan, pembaca dapat merujuk pada kanal penjualan resmi atau materi publikasi yang menyertai peluncuran buku.
Memahami Pembangunan dari Kehidupan Sehari-hari
Sebuah buku tentang pembangunan pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai apa yang terjadi di atas tanah atau di dalam dokumen kebijakan. Ia juga berbicara tentang manusia yang bekerja di dalam ruang tersebut, keluarga yang tinggal di sekitarnya, serta makanan yang hadir di meja makan.
Dari sanalah Koreografi Perampasan mengajak pembacanya melihat kembali hubungan antara kuasa, ruang, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari dengan cara yang lebih dekat.
Melalui buku ini, pembaca diajak memberi perhatian pada sisi pembangunan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Sebab, perubahan ruang bukan hanya tentang bagaimana suatu wilayah dibentuk, tetapi juga tentang bagaimana manusia hidup, bekerja, dan memenuhi kebutuhannya di dalam wilayah tersebut.



